KAI Perkuat Skill Komunikasi di Era Digital Lewat Newscraft & Relationlab

1 day ago 8

Jakarta - Peningkatan kualitas komunikasi menjadi hal krusial di tengah perkembangan era digital yang semakin dinamis. Hal ini mendorong PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk terus memperkuat kapasitas tim, khususnya dalam menyampaikan informasi yang efektif dan kredibel kepada publik.

Melalui Public Training bertajuk 'Newscraft & Relationlab' yang diselenggarakan bersama detikcom, KAI menghadirkan pelatihan yang membahas strategi komunikasi dari sisi branding hingga pemahaman cara kerja media.

Sebanyak 25 peserta dari bidang Corporate Communication KAI turut mengikuti kegiatan ini. Mereka dibekali pemahaman terkait penyusunan informasi, pengelolaan hubungan kehumasan, hingga membangun narasi yang kuat dan relevan di tengah arus informasi digital.

Dalam sesi pertama, Head of Brand Communication detikcom Karel Anderson menjelaskan mengenai corporate branding dan peran public relations dalam membangun citra perusahaan. Menurutnya, komunikasi dan branding tidak hanya soal pesan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut dirasakan oleh audiens.

"Branding itu bukan diikutkan dengan hype (tren), tapi membangun value jangka panjang," ujarnya di Artotel Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).

Ia menilai keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan dari apa yang disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana audiens merespons pesan tersebut.

"Kita bisa kontrol pesan, tapi gak bisa memaksakan kesan. Maka narasi boleh sama, rasanya yang harus beda," katanya.

Sementara itu, dalam sesi kedua, Pemimpin Redaksi detikcom Ardhi Suryadhi memaparkan materi mengenai jurnalisme dan pemberitaan. Ia menerangkan bagaimana cara kerja media dalam menentukan sebuah informasi layak menjadi berita.

"News Value adalah nilai berita, ya itu ke translate-nya. Tapi gampangnya, News Value adalah ini. Nah menurut saya, sebagai media yang sering berinteraksi dengan teman-teman di humas korporasi atau pemerintahan lembaga, ini penting," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa proses kerja redaksi kini juga didukung oleh teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

"Dulu, kalau misalkan saya di redaksi, 'Oh kayaknya besok rame nih'. 'Oh, besok kayaknya oke nih'. Tapi sekarang, kita sudah pakai tools semua," katanya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa penggunaan AI hanya sebatas alat bantu, bukan untuk menggantikan peran jurnalis.

"Tapi pada akhirnya, yang kami lakukan salah satu tools AI (dengan AI) untuk pengembangan redaksi adalah untuk memberikan rekomendasi. Saya garis bawahi dan saya bold ya, bukan untuk menulis, untuk memberikan rekomendasi," tegasnya.

Ardhi juga menyoroti pentingnya verifikasi dalam praktik jurnalistik, termasuk saat mengambil informasi dari media sosial.

"Buat media, boleh nggak sih mengutip dari sosial media menurut teman-teman? Kenapa? Karena diperbolehkan oleh dewan pers," katanya.

"Tapi, ada tapi-nya nih. Harus juga melakukan check-recheck, memeriksa fakta, dan harus diklarifikasi dan klarifikasi. Nah, ini pembedanya antara kami di media dengan pengguna sosial media perorangan," lanjutnya.

Ia pun berharap materi yang disampaikan dalam pelatihan ini dapat memberikan dampak luas bagi peningkatan kualitas layanan komunikasi KAI.

"Harapannya, informasi yang disampaikan (materi workshop) itu juga bisa menyeluruhi seluruh daerah yang dilayani oleh KAI. Sehingga, layanan yang diberikan kepada penggunanya itu jauh lebih baik lagi," ungkapnya.

Sementara itu, VP Corporate Communication KAI Anne Purba mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara KAI dan detikcom. Ia menyambut baik kolaborasi ini dan berharap pelatihan yang diberikan dapat meningkatkan kompetensi peserta, khususnya dalam mendukung reputasi perusahaan.

"Harapannya dengan adanya kolaborasi ini teman-teman (peserta) semakin bisa meningkatkan kualitas tulisannya, bagaimana juga mereka bisa meningkatkan kompetensi mereka untuk peningkatan reputasi perusahaan, dan melakukan engage terhadap semua media-media yang ada di daerah, khususnya Jawa dan Sumatera," ucapnya.

"Semoga kolaborasi ini bisa memberikan insight buat KAI (dan) juga detikcom, sehingga kita ke depan bisa melakukan kerja sama yg lebih baik lagi untuk transportasi Indonesia yang lebih maju," tambahnya.

Senada, salah satu peserta, Rizky Firman Prasetyo, menyebut kegiatan ini memberikan pengalaman yang berharga karena mempertemukan langsung praktisi dengan pelaku industri media.

"Kalau menurut saya sebagai peserta yang mengikuti workshop yang diadakan KAI dan detikcom, sangat menarik ya, karena kita secara institusi, secara korporasi, bisa dipertemukan langsung dengan momen yang menurut saya sangat langka," ungkapnya.

Acara kemudian ditutup dengan games interaktif yang melibatkan para peserta untuk memperkuat pemahaman materi secara lebih ringan dan menyenangkan. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai penanda berakhirnya rangkaian Public Training 'Newscraft & Relationlab' antara KAI dan detikcom. (prf/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |