MADIUN - Demi mewujudkan lingkungan kerja yang tidak hanya sehat dan aman, tetapi juga penuh rasa saling menghargai, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun mengambil langkah proaktif. Kekhawatiran mendalam terhadap kesehatan para pekerjanya dan keluarga mereka mendorong KAI Daop 7 Madiun menggelar sebuah acara edukatif yang krusial: Talkshow dan Dialog Interaktif bertajuk “Pencegahan HIV/AIDS di Lingkungan Kerja dan Keluarga”.
Acara yang dirancang secara hybrid ini memungkinkan partisipasi luas. Sebagian peserta berkumpul di Aula Lantai 2 Kantor Daop 7 Madiun, sementara rekan-rekan mereka yang berada di berbagai wilayah kerja mengikuti jalannya acara secara daring, menciptakan koneksi yang tak terputus meski terpisah jarak.
Pembukaan acara ini terasa istimewa dengan kehadiran Deputy Vice President PT KAI Daop 7 Madiun, Alam Prasetyo, yang didampingi Manager Kesehatan Daop 7 Madiun. Narasumber utama yang dihadirkan adalah sosok inspiratif, drh. Titik Sugianti, seorang aktivis perempuan sekaligus Ketua LSM Bambu Nusantara.
Alam Prasetyo menyampaikan keprihatinan yang mendalam dengan mengutip data nasional. “Berdasarkan data nasional, Provinsi Jawa Timur menempati peringkat ketiga dalam kasus penyebaran HIV/AIDS, ” ujarnya. Ia menekankan bahwa fakta ini menuntut kewaspadaan kolektif, terutama mengingat mayoritas pekerja KAI berada di usia produktif (20-50 tahun) yang rentan terhadap risiko penularan akibat pergaulan yang kurang terjaga.
“Kami mengimbau seluruh insan KAI Daop 7 untuk terus menjaga pergaulan, menerapkan gaya hidup sehat, dan membentengi keluarga. Kesehatan pekerja adalah aset utama perusahaan, ” tegas Alam Prasetyo.
Dalam sesi mendalam, drh. Titik Sugianti memaparkan edukasi komprehensif mengenai HIV/AIDS. Pembahasannya mencakup pencegahan, cara penularan yang akurat, serta urgensi deteksi dini. Yang membuat sesi ini semakin menyentuh adalah kesempatan berharga bagi para peserta untuk mendengarkan langsung kesaksian dan pengalaman hidup dari seorang Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Sesi berbagi ini dirancang bukan hanya untuk memberi pemahaman, tetapi juga untuk menumbuhkan empati yang mendalam bagi para penyintas.
Manajer Humas Daop 7 Madiun, Tohari, menyoroti kaitan erat antara kesehatan pekerja dengan keberlanjutan bisnis transportasi kereta api. Ia menjelaskan, “Sebagai penyedia layanan publik massal, roda bisnis KAI sangat bergantung pada keandalan dan produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM).”
Tohari menambahkan bahwa paparan penyakit kronis tanpa penanganan yang tepat pada pekerja di sektor operasional maupun pelayanan publik berpotensi menurunkan produktivitas, meningkatkan angka absensi, bahkan mengganggu kelancaran pelayanan dan keselamatan perjalanan kereta api. Sebaliknya, melalui edukasi preventif ini, perusahaan berupaya memastikan seluruh kru, masinis, petugas stasiun, hingga staf kantor berada dalam kondisi prima.
Lebih jauh, pemahaman yang benar mengenai HIV/AIDS sangat penting untuk membasmi stigma dan diskriminasi di lingkungan kerja. KAI berkomitmen untuk menciptakan tempat kerja yang inklusif dan suportif, di mana setiap pekerja merasa aman, baik secara fisik maupun psikologis.
“Melalui sinergi edukasi ini, diharapkan seluruh pekerja KAI Daop 7 Madiun semakin memahami pentingnya pencegahan HIV/AIDS dari tingkat keluarga hingga lingkungan kerja, mampu menghilangkan diskriminasi terhadap ODHA, serta bersama-sama mewujudkan ekosistem perusahaan yang sehat guna mendukung layanan transportasi kereta api yang aman dan terpercaya bagi masyarakat, ” pungkas Tohari.


















































