Istana: Sejak Awal Tak Ada Statement Presiden akan ke Italia

6 hours ago 7

Jakarta -

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari menegaskan agenda resmi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto pada pekan ini hanya ke Prancis. Ia mengatakan sejak awal tak ada pernyataan resmi dari pemerintah jika Presiden Prabowo bakal ke Italia.

"Sejak awal tidak ada statement pemerintah RI bahwa Presiden akan ke Italia. Yang kedua, jadwal resmi memang hanya ke Prancis," kata Qodari dilansir Antara, Minggu (31/5/2026).

Hal itu disampaikan Qodari merespons isu yang beredar bahwa Presiden Prabowo mengunjungi negara lain selain Prancis dalam lawatannya ke luar negeri, yang dimulai pada Selasa (26/5) hingga Jumat (29/5). Ia menjelaskan apabila dalam perjalanan muncul rencana kunjungan ke negara lain, hal tersebut masih sebatas rencana hingga ada penyampaian resmi dari pemerintah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bila di perjalanan ada rencana akan ke tujuan yang lain, itu sebatas rencana sampai ada penyampaian resmi dari pemerintah," ujarnya.

Qodari menyampaikan kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Prancis telah diumumkan Menteri Luar Negeri Sugiono sejak 22 April 2026. Menurut dia, kunjungan tersebut merupakan balasan atas kunjungan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia pada tahun lalu.

Selain mempererat hubungan bilateral, kunjungan itu disebut juga ditujukan untuk memperkuat kerja sama di bidang pertahanan, terutama terkait transfer teknologi setelah Indonesia memperoleh sejumlah alat utama sistem persenjataan dari Prancis. Kerja sama kedua negara juga diarahkan pada sektor pendidikan, khususnya ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) sehingga hubungan Indonesia dan Prancis tidak hanya terbatas pada pengadaan barang, tetapi juga pengembangan teknologi.

Pemerintah juga menargetkan peningkatan kerja sama di bidang energi dan pemanfaatan mineral kritis. Di luar agenda tersebut, Qodari menilai hubungan personal yang baik antara Presiden Prabowo dan Presiden Macron menjadi modal sosial yang dapat mendukung penguatan hubungan bilateral kedua negara.

"Kita semua mengetahui bahwa ada hubungan personal yang sangat kuat antara kedua kepala negara dan modal sosial itu tidak kalah penting dibandingkan modal ekonomi maupun politik dalam membangun hubungan baik dan kerja sama antarnegara," katanya.

Ia juga menyinggung hubungan Presiden Prabowo dengan sejumlah pemimpin dunia, seperti Vladimir Putin, Donald Trump, dan Xi Jinping, yang dinilai dapat mendukung penguatan kerja sama internasional Indonesia.

"Semua ini tentu kita merasakan manfaatnya dalam konteks situasi dan kondisi saat ini maupun pada masa depan," ujar Qodari.

(dwr/gbr)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |