Genjot Daya Saing RI, Waka MPR Dorong Partisipasi Perempuan di Sektor STEM

4 hours ago 1

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya peningkatan partisipasi perempuan dalam bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM). Ia menilai hal tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing dan inovasi Indonesia di masa depan.

Meski demikian, sejumlah data menunjukkan masih adanya kesenjangan gender dalam bidang STEM, baik dalam pendidikan maupun dunia kerja. Padahal, sektor STEM merupakan fondasi utama bagi pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan dan transformasi digital.

Data International Labour Organization (ILO) pada 2024 menunjukkan perempuan hanya sekitar 35% dari lulusan STEM di Indonesia. Sedangkan perempuan yang benar-benar bekerja di sektor tersebut hanya sekitar 8%. Artinya, sebagian besar perempuan yang memiliki pendidikan STEM tidak berlanjut ke karier di bidang sains dan teknologi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Data ini menunjukkan persoalan utamanya bukan pada kemampuan akademik perempuan. Banyak perempuan memiliki prestasi yang sangat baik di bidang sains dan matematika, tetapi mereka masih menghadapi hambatan sosial dan stereotip gender yang membatasi partisipasi mereka," ujar Lestari dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).

Anggota Komisi X DPR RI ini pun mengungkapkan hambatan tersebut sering muncul sejak usia dini, termasuk melalui ekspektasi sosial yang membentuk kepercayaan diri anak perempuan terhadap bidang sains dan teknologi.

Tanpa disadari, kata Lestari, kondisi ini membuat banyak perempuan tidak melihat STEM sebagai jalur karier yang realistis bagi mereka. Di sisi lain, kebutuhan tenaga kerja berbasis teknologi terus meningkat seiring perkembangan ekonomi digital dan kecerdasan buatan.

Melihat kondisi ini, Lestari menilai pentingnya memperluas partisipasi perempuan dalam STEM. Dengan begitu, Indonesia dapat memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk menghadapi perubahan global.

"Kesetaraan perempuan di bidang STEM bukan sekadar isu keadilan sosial. Ini adalah kepentingan strategis bangsa. Jika setengah potensi intelektual bangsa tidak diberi ruang yang sama untuk berkembang, maka kita kehilangan peluang besar untuk memperkuat inovasi dan daya saing nasional," tegasnya.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu pun mendorong agar sistem pendidikan dan kebijakan pengembangan sumber daya manusia, memberi perhatian lebih pada penguatan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi.

Ia menekankan sekolah dan perguruan tinggi perlu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, memberi ruang bagi perempuan untuk aktif dalam riset, diskusi ilmiah, dan kepemimpinan akademik.

Menurutnya, pembangunan ekosistem pendidikan yang inklusif akan membuka peluang lebih luas bagi generasi muda perempuan untuk berkontribusi dalam inovasi, teknologi, dan ilmu pengetahuan.

"Dengan membuka akses yang lebih luas bagi perempuan di bidang STEM, Indonesia tidak hanya mewujudkan keadilan gender, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia yang inovatif dan berdaya saing," pungkasnya.

Simak juga Video 'Ramadan dan Green Tech: Etika Lingkungan di Era AI':

(anl/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |