Fenomena 'War' Takjil di Benhil tapi Penjual Ngeluh Omzet Turun, Kok Bisa?

5 hours ago 3
Jakarta -

Kegiatan 'war' takjil selalu dinanti setiap bulan Ramadan. Terutama di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat, yang menjadi salah satu ikon bazar takjil di Jakarta.

Namun, meski istilah 'war' takjil identik dengan keramaian pembeli, kenyataannya hal itu bertolak belakang dengan yang dirasakan oleh pedagang takjil di kawasan Benhil. Beberapa pedagang justru mengeluhkan penurunan omzet penjualan takjil di kawasan tersebut tahun ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti halnya yang dirasakan Yusra. Pria yang sehari-hari berjualan nasi padang dan menjual bubur kampiun saat Ramadan ini mengungkapkan penjualan takjilnya menurun memasuki pertengahan Ramadan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Kalau tahun kemarin sih kita bisa laku seribu porsi sehari, tapi kalau sekarang, karena sering hujan ya, konsumen pada nggak dateng," kata Yusra ditemui detikcom di lokasi dagangnya, kawasan Benhil, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3/2026).

Yusra menjelaskan biasanya pembeli takjil membeludak pada awal Ramadan. Keramaian pun mulai berkurang setelah pertengahan bulan dan hanya terjadi di akhir pekan.

Namun, tahun ini, kebiasaan itu tidak terlihat. Menurutnya, hujan yang sering turun di sore hari sangat memengaruhi kedatangan konsumen.

"Untuk sekarang ini belum bisa (capai penjualan porsi besar). Paling baru 20 sampai 35 porsi. Karena cuaca ya (hujan). Awal Ramadan yang (biasanya) pasti ramai. Kalau pertengahan gini sih biasanya rame nya di Sabtu Minggu, tapi itu pun kalau cuaca bagus ya, nggak hujan," terang Yusra.

Senada dengan Yusra, Upi, yang juga menjual asinan untuk berbuka puasa, mengalami hal yang sama. Upi mengatakan slogan tentang ramainya pembeli takjil di kawasan Benhil tak selalu mencerminkan kenyataan.

"Tetep ada pasang surut. Kalau hujan, gimana? Siapa yang beli ke sini? Kan nggak ada. Jangan dilihat rame aja, nggak, ada pasang surutnya. (Kalau hujan sepi) iyalah, siapa yang mau beli masalahnya," ungkap Upi.

Selain itu, pedagang takjil lainnya, Wahyu, juga merasakan hal serupa. Wahyu, yang sering berjualan di bazar kuliner di beberapa perkantoran, mengungkapkan pendapatan yang diperoleh tahun ini jauh berbeda. Malah, kata dia, lebih besar pendapatan jika berjualan pada acara sebuah kantor.

"Jauh berbeda (omzetnya), lebih gede di perkantoran," tutur Wahyu.

Dia mengatakan, saat akhir pekan, kerap menyiapkan 50 kilogram daging ayam yang diolah menjadi steak sebagai menu jualan takjil. Biasanya 50 kilogram daging itu bisa untuk 200 porsi.

Namun, tahun ini, penjualannya tidak mencapai target, hanya sekitar 150 porsi yang laku. Untungnya, Wahyu tidak hanya menjual steak, tetapi juga jajanan lain, seperti pentol dan tahu bakso.

"(Laku) paling 150. (Porsi dagangannya) Dilebihkan. Biasanya kalau buat Sabtu-Minggu bawanya 50 kilo ayam. Hampir 200 porsi," ucap Wahyu.

Pedagang lain yang juga mengeluhkan penurunan omzet tahun ini ialah Sariyah. Penjual kue basah dan gorengan untuk takjil ini mengaku omzetnya turun hingga 40 persen, sehingga terpaksa mengurangi jumlah karyawan.

"Kalau tahun ini merosot. Nggak tahu (penyebabnya), mungkin pengunjungnya sedikit. (Turun) 40 persenlah, kami tadinya ada karyawan tiga, sekarang cuma satu yang masarin," imbuh Sariyah.

(kuf/amw)


Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |