Eks Napi Luncurkan Sepatu Merek 'Arprize', Berbekal Keterampilan Saat Masa Pidana

6 hours ago 2

Jakarta -

Bakti Kurniawan bin Edi Junaedi membangun merek sepatu lokal Arprize, berbekal keterampilan yang diperoleh selama menjalani masa pidana. Mantan narapidana (napi) asal Kabupaten Tangerang, Banten, itu kini berstatus klien pembebasan bersyarat (PB) Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Ciangir, Tangerang, Banten.

"Saya klien Bapas Ciangir yang dibimbing oleh Ibu Nunik (Pembimbing Kemasyarakatan Madya Nunik Kurniani). Saat ini saya memiliki produk sepatu lokal Arprize yang diproduksi sendiri bersama keluarga. Terima kasih kepada Bapas Ciangir dan Ibu Nunik yang telah membimbing saya hingga bisa berkembang seperti sekarang," ujar Bakti dalam video yang dirilis Bapas Ciangir, seperti dilihat detikcom pada Jumat (7/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mulai memasarkan sepatu buatannya secara daring seperti TikTok Shop dan Shopee, hingga kini memiliki sejumlah outlet. Ia telah menjalani pidana selama 1 tahun 10 bulan, dan saat ini masih berada dalam masa pembimbingan hingga 21 Januari 2027.

"Semoga masyarakat lebih mencintai produk lokal dan memberikan kesempatan kepada mantan warga binaan untuk menunjukkan bahwa kami bisa berkarya dan memberikan manfaat bagi lingkungan," harap Bakti.

Dia mendesain sepatu Arprize dengan gaya kasual modern. Warna sepatu tersebut didominasi warna hitam dan putih.

Bakti mengatakan produknya mengedepankan kenyamanan, material berkualitas, jahitan rapi, bantalan empuk. Bagian sol sepatu, klaim Bakti, kuat dan tahan lama.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bapas Kelas II Ciangir Anjar Seto mengapresiasi semangat dan usaha Bakti untuk mandiri. Baginya, keberanian Bakti memulai UMKM sesuai dengan tujuan utama pembimbingan kemasyarakatan, yakni mengembalikan klien menjadi pribadi yang produktif, dan diterima di tengah masyarakat.

"Saat ini usaha sepatu Arprize berkembang sangat baik. Penjualannya dilakukan secara online maupun langsung di outlet. Kami berharap usaha ini terus berkembang dan semakin sukses," tutur Anjar.

Anjar berharap sepatu Arprize nantinya juga membuka kesempatan kerja bagi klien pemasyarakatan lainnya, yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan setelah bebas. "Harapan kami, Mas Bakti dapat memberikan kesempatan kepada teman-teman klien yang belum memiliki pekerjaan untuk bergabung bersama usahanya. Dengan demikian manfaat pembinaan tidak hanya dirasakan oleh dirinya, tetapi juga oleh klien-klien lainnya," ungkap Anjar.

Diketahui Bapas Kelas II Ciangir saat ini membimbing 1.287 klien pemasyarakatan. Anjar berharap sosok Bakti menjadi inspirasi bahwa mantan narapidana tetap memiliki kesempatan untuk bangkit dan membangun masa depan melalui keterampilan yang diperoleh selama menjalani masa pidana.

Setahun lalu, tepatnya pada Kamis (17/7/2025), Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto mengatakan pendekatan pemasyarakatan mengedepankan humanisme dan kemandirian Sehingga, lanjutnya, mantan-mantan penghuni lapas mampu berdaya dan tak lagi mengulangi perbuatan pidana.

"Kepala lapas dituntut untuk aktif membangun jejaring dan menjalin komunikasi yang konstruktif dengan berbagai pihak di luar. Tujuannya agar hasil karya warga binaan bisa menjadi produk yang bernilai ekonomis dan berdaya saing," ujar Menteri Agus.

Agus menambahkan pembinaan berbasis produktivitas diharapkan mampu menyerap tenaga kerja dari kalangan warga binaan dalam jumlah besar. Hal tersebut menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

"Kalapas harus paham potensi daerah yang dipimpinnya," kata Menteri Agus.

(aud/zap)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |