Diduga Lecehkan Bocah Perempuan, Pegawai Wi-Fi di Bogor Nyaris Diamuk Massa

13 hours ago 6

Jakarta -

Seorang pegawai Wi-Fi nyaris diamuk warga karena diduga melakukan pelecehan secara verbal terhadap anak di bawah umur di Bogor Barat, Kota Bogor. Peristiwa tersebut mendadak viral di media sosial.

Kapolsek Bogor Barat Kompol Didin Komarudin mengatakan, peristiwa tersebut diketahui orang tua dari laporan tetangga yang mendengar aduan anaknya, tadi malam. Dugaan pelecehan secara verbal itu diketahui warga lainnya, sehingga ramai-ramai mendatangi pelaku yang sedang memasang kabel Wi-Fi.

"Menurut keterangan salah satu orang tua korban, peristiwa adanya pelecehan secara verbal yang dilakukan oleh petugas Wi-Fi diketahui dari tetangga. Setelah ditanyakan kepada anak yang bersangkutan, ia menyampaikan ucapan dari petugas Wi-Fi kepada anak tersebut, yaitu 'kalau mau uang, buka baju'," kata Didin, Jumat (7/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Didin menyebut, pegawai Wi-Fi sempat diamankan warga dan Ketua RT untuk diklarifikasi. Namun, pelaku diminta meninggalkan lokasi karena khawatir menjadi sasaran amukan massa. Didin memastikan pihak korban belum membuat laporan polisi dan belum terjadi mediasi.

"Selanjutnya pelaku diamankan dan disuruh meninggalkan lokasi agar tidak terjadi keributan yang lebih besar. Sampai saat ini belum ada proses mediasi dan korban belum melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian," kata Didin.

Dihubungi terpisah, anggota Polsek Bogor Barat Ipda Agus mengatakan, berdasarkan informasi yang diperoleh di lokasi, peristiwa terjadi ketika pegawai Wi-Fi sedang memasang kabel. Saat itu, sejumlah anak perempuan datang sambil melihat dan diduga bercanda meminta uang.

"Jadi cerita dari orang tua korban, teknisi Wi-Fi itu sedang pasang kabel, lalu dibercandai sama anak-anak itu, 'Mang, bagi duit, Mang'. Nah, mungkin terlontar kalimat begitu, si teknisi ini menjawab 'kalau mau uang, buka celana, buka baju'. Tapi sekali lagi, ini cerita dari orang tua yang dapat keterangan dari anaknya," kata Agus.

"Jadi, karena menghindari massa dan takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, teknisi itu disuruh pulang. Tidak ada teknisi yang diserahkan ke kepolisian, orang tua korban belum melapor, dan tidak ada mediasi perdamaian juga," imbuhnya.

(dek/dek)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |