Depok Akan Bangun Pabrik Pengolahan Sampah, Kapasitas 1.000 Ton Per Hari

10 hours ago 5

Depok -

Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan membangun pabrik pengolahan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Kota Depok. Pabrik itu akan mengolah sampah dengan kapasitas 1.000 ton per hari.

Berdasarkan situs Pemkot Depok, proyek ini menjadi solusi untuk menekan beban TPA Cipayung. Serta mengurangi ketergantungan pada Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Nambo.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Siti Nuraeni, mengatakan saat ini proses kerja sama dengan calon mitra terus berjalan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk PT BSA, MoU sudah. Saat ini kita sedang memproses drafting Perjanjian Kerja Sama (PKS)," ujar Reni seperti dilihat di situs Pemkot Depok, Jumat (27/2/2026).

Dia menjelaskan penyusunan PKS dilakukan secara paralel dengan sejumlah tahapan administrasi dan konsultasi lintas kementerian. Selain itu, pihaknya akan berkonsultasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) terkait penggunaan alat yang akan dioperasikan.

"Kami berkoordinasi terkait substansi KSDPKC (Kerja Sama Daerah dengan Pihak Ketiga) dengan Kementerian Dalam Negeri. Sudah ada tim yang ke sana," jelasnya.

"Kami juga harus mendapatkan penguatan dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait alat yang digunakan, apalagi ini berkaitan dengan ekspor," tambahnya.

DLHK kini tengah menyiapkan surat untuk DPRD serta melibatkan akademisi dalam menghitung skema pembiayaan.

"Kami sedang meminta bantuan dari UI untuk menghitung kembali tipping fee yang ditawarkan calon mitra. Angka yang ditawarkan itu layak tidak? Kebesaran, kekecilan, atau sudah cukup?" katanya.

Reni menegaskan pihaknya telah menyusun target waktu penyelesaian kerja sama. Dia memperkirakan peletakan batu pertama dapat dilakukan pada awal Mei, dengan masa pembangunan sekitar enam bulan.

"Target kami PKS selesai bulan ini, akhir Februari. Setelah itu, groundbreaking dilakukan setelah Lebaran. Bangunannya seperti hanggar, jadi relatif cepat. Kalau mulai Mei, enam bulan berarti Oktober selesai," jelasnya.

Dengan skema tersebut, operasional penuh ditargetkan dapat dimulai tahun depan, sementara tahun ini akan dilakukan uji coba.

"Tahun depan operasional maksimal. Tahun ini kita uji coba dulu. Kami menggunakan aspek kehati-hatian yang lebih komprehensif. Tidak semata-mata karena digesa, lalu ada aspek yang tertinggal," tutupnya.

(dvp/idn)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |