Bripda Putra Ciptakan Pupuk Ramah Lingkungan, Wakapolri: Harus Diberi Ruang Berkembang

5 hours ago 1

Jakarta -

Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo mengapresiasi sosok Bripda Muhammad Putra Aulia, anggota Polda Riau, yang memiliki kemampuan di bidang ketahanan pangan, dan mengedepankan prinsip green policing pada inovasi yang diciptakannya. Bripda Putra diketahui mengembangkan Fertiplus Harmoni Hijau, yang merupakan pupuk ramah lingkungan.

Dia telah memproduksi lebih dari 5,2 ton pupuk tersebut, dan didistribusikan ke seluruh polres dan polsek jajaran Polda Riau. Ia juga mengembangkan Densifur (disinfektan sulfur multifungsi) untuk sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Inovasi Bripda Putra dinilai wujud konkret Bhayangkara dalam mendorong produktivitas pertanian, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

"Inilah wajah Polri yang ingin kita bangun. Anggota yang tidak berhenti belajar, mampu mengembangkan keilmuannya, kemudian mengimplementasikannya untuk kepentingan masyarakat," kata Komjen Dedi dalam keterangan pada Jumat (7/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kompetensi yang dimiliki setiap personel harus menjadi kekuatan institusi dalam mendukung program-program nasional, mulai dari ketahanan pangan, lingkungan hidup, kesehatan, teknologi, hingga pelayanan publik," lanjutnya.

Bripda Putra menyandang gelar akademik Sarjana Peternakan (S.Pt). Dia direkrut oleh Polri dari jalur bintara kompetensi khusus (bakomsus).

Bripda Putra Ciptakan Pupuk Ramah LingkunganBripda Putra Ciptakan Pupuk Ramah Lingkungan (Foto: dok. istimewa)

Sebagai sarjana peternakan, Bripda Putra memiliki kompetensi di bidang peternakan, teknologi hasil ternak, keamanan pangan, nutrisi ternak, teknologi pakan, biosekuriti, hingga pemberdayaan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan. Dia menyelesaikan studi strata satu di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau dengan raihan predikat cum laude, yakni IPK 3,80.

Saat ini Bripda Putra tengah menempuh pendidikan Magister Peternakan di Universitas Padjadjaran. Dia berfokus pada bidang nutrisi ternak.

Penelitian yang dikembangkannya berfokus pada inovasi feed additive berbasis asam amino untuk meningkatkan efisiensi feed conversion ratio (FCR), produktivitas peternakan. Penelitiannya didasari semangat mendukung ketahanan pangan nasional.

"Pangkat bukan alasan ataupun penghalang untuk terus mengembangkan diri. Setiap anggota Polri memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, meneliti, berinovasi, dan mengabdikan ilmunya bagi masyarakat. Passion terhadap ilmu pengetahuan harus menjadi energi untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa," jelas Komjen Dedi.

Bripda Putra pernah menjadi Farm Manager Partnership di PT Charoen Pokphand Indonesia sebelum memutuskan bergabung sebagai abdi negara. Kala itu dia diberi tanggung jawab mengelola peternakan broiler berkapasitas hingga 100 ribu ekor, mengembangkan biosekuriti, nutrisi, sanitasi, feed additive, serta manajemen produksi peternakan modern.

Ia juga berpengalaman sebagai Farm Manager Quality Control di PT Malindo Feedmill Indonesia, yang tugasnya mengendalikan mutu produksi peternakan. Pun ia pernah bekerja sebagai Tenaga Ahli Quality Assurance pada industri air minum demineral, dengan tugas memastikan penerapan standar HACCP, GMP, BPOM, dan SNI.

"Kami ingin membangun budaya organisasi yang menghargai ilmu pengetahuan. Siapa pun anggotanya, apa pun pangkatnya, ketika memiliki gagasan, riset, dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, maka harus diberikan ruang untuk berkembang," tegas Komjen Dedi.

"Polri harus menjadi rumah bagi inovasi sekaligus mitra strategis perguruan tinggi dalam melahirkan solusi bagi bangsa," imbuh dia.

Bripda Putra merupakan Siswa Terfavorit, Serdik Terinovatif, Satya Mitra Utama, selama menempuh pendidikan bintara, berkat kemampuannya menciptakan prodok-produk pertanian ramah lingkungan. Dia juga mendapat apresiasi langsung dari Kepala Pusdik Binmas Polri.

Produk yang dikembangkan Bripda Putra juga sejalan dengan kebijakan Polda Riau, di bawah kepemimpinan Irjen Herry Heryawan, yakni Green Policing. Pada kesempatan terpisah, Irjen Herry menjelaskan Green Policing merupakan paradigma pemolisian yang menempatkan perlindungan lingkungan hidup sebagai bagian integral dari pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Irjen Herry menganggap Ancaman terhadap lingkungan, seperti kebakaran hutan dan lahan, pembalakan liar, perambahan kawasan hutan, pencemaran, hingga perubahan iklim, tidak hanya berdampak terhadap ekosistem, tetapi juga berpotensi memicu konflik sosial, mengganggu aktivitas ekonomi, dan mengancam keselamatan masyarakat. Oleh sebab itu, Irjen Herry mengimplementasikan Green Policing melalui tiga pilar utama, yakni prevention, law enforcement, dan restoration.

(aud/zap)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |