Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menampilkan hasil riset terkait teknologi nuklir di depan Presiden Prabowo Subianto. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan teknologi nuklir yang dipamerkan itu untuk kepentingan energi dan kesehatan.
"Kalau berkaitan dengan masalah nuklir, lebih fokus ke masalah untuk, selain penelitian, untuk kepentingan energi ya dan kesehatan," kata Prasetyo Hadi di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Prasetyo mengatakan penelitian itu terkait kemungkinan nuklir untuk pembangkit listrik. Dia mengatakan penelitian BRIN juga ditujukan untuk mengembangkan teknologi nuklir terkait medis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi misalnya untuk mungkinkah pembangkit listrik tenaga nuklir atau mungkinkah peralatan alutsista berbahan nuklir, dan kesehatan terutama, medis, ya," ujarnya.
Sebelumnya, Kepala BRIN Arif Satria menyebut teknologi yang ditampilkan termasuk dalam nuklir damai yang bertujuan untuk energi, pangan, hingga kesehatan. Dia lantas membeberkan progres pengembangan teknologi tersebut.
"Jadi soal nuklir tadi kan nuklir itu kan tidak hanya untuk energi, nuklir ini termasuk untuk pangan, nuklir untuk kesehatan," kata Arif kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8).
Untuk kesehatan, BRIN tengah mengembangkan radiofarmaka. Yakni obat yang mengandung zat radioaktif dan digunakan dalam dunia kedokteran nuklir untuk mendiagnosis maupun mengobati penyakit kanker.
"Jadi sekarang itu kita sudah tadi saya sampaikan ada radiofarmaka yang sudah dikembangkan, dan ini akan sangat penting untuk identifikasi cancer maupun untuk mengatasi cancer," ujar Arif.
Sementara itu, nuklir di sektor pangan dikembangkan untuk keperluan pengawetan. Dia memastikan BRIN terus mengembangkan potensi nuklir tersebut.
"Kalau kita ekspor buah-buahannya memang beberapa negara mensyaratkan adanya iradiasi, supaya apa? Supaya bahan buah-buahannya itu lebih awet, dan sekarang kita sudah kembangkan fasilitas itu di Pasar Jumat ya, di BRIN, juga ada di Serpong yang sangat penting untuk peningkatan kualitas produk-produk ekspor kita," ujarnya.
Arif mengatakan BRIN terus mengembangkan teknologi nuklir secara menyeluruh. Hal itu sebagai langkah antisipasi apabila Indonesia memutuskan mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di masa depan.
"BRIN harus menyiapkan kemampuan teknologi nuklir dari sekarang sehingga, ketika Indonesia memutuskan memasuki era PLTN, kita tidak memulainya sepenuhnya dari nol dan tidak hanya menjadi pembeli teknologi," ujar Arif.
(eva/haf)

















































