Siapa Ratko Mladic? Komandan Militer Paling Kejam dan Memimpin Perang yang Menewaskan 100.000 Warga Muslim Bosnia

9 hours ago 2

loading...

Ratko Mladic dimakamkan secara militer. Foto/X

LONDON - Jenazah Ratko Mladić, komandan Serbia -Bosnia yang meninggal saat menjalani hukuman seumur hidup akibat kejahatan perang, disemayamkan pada hari Senin. Langkah ini diambil Serbia meskipun ada peringatan dari Uni Eropa agar tidak mengizinkan penghormatan publik bagi pria yang dinyatakan bersalah atas kasus genosida pertama di benua Eropa sejak Perang Dunia II tersebut.

Ribuan pelayat tiba lebih awal di Gereja Ortodoks Serbia kecil bernama Gereja St. Lukas di Beograd untuk menghormati Mladić, sosok yang masih dianggap sebagai pahlawan oleh banyak orang Serbia. Topi perwira militer dan pedang miliknya diletakkan di atas peti mati, yang diapit oleh sejumlah pria berseragam militer lapangan.

Media pro-pemerintah di Serbia melaporkan bahwa Mladić akan menerima penghormatan militer penuh, sementara pemimpin Gereja Ortodoks Serbia, Patriark Porfirije, akan memimpin upacara pemakaman.

Mladić "adalah sosok yang menyerahkan seluruh hidupnya demi rakyat Serbia," ujar Milan Dobric, seorang pelayat yang datang jauh-jauh dari Kosovo untuk menghadiri pemakaman tersebut. "Saya senang melihat orang-orang datang pagi ini untuk memberikan penghormatan khusus."

Mladić meninggal dunia pada usia 84 tahun, tanggal 27 Agustus di Den Haag, Belanda, saat menjalani hukuman seumur hidup atas genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan pasukannya selama perang Bosnia tahun 1992-1995.

Meskipun pengaturan pemakaman dilakukan secara resmi oleh keluarga Mladić, pemerintah Serbia mengirimkan pesawat pekan lalu untuk membawa jenazahnya ke Beograd, dan para tentara mengusung peti matinya yang dibalut bendera nasional. Sebuah upacara peringatan militer telah diadakan pada hari Sabtu di lokasi resmi milik tentara Serbia. Presiden populis Aleksandar Vucic—mantan nasionalis garis keras yang mendukung kebijakan ekspansionis Serbia selama masa perang—menyebut acara pemakaman tersebut sebagai "luapan emosi" yang "tidak ada kaitannya dengan apakah Vucic mengizinkan sesuatu atau tidak."

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |