Saksi Ungkap Alasan Kerja Sama Perusahaan Corpus Christi soal Pengadaan LNG

9 hours ago 3
Jakarta -

Mantan Manajer gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) trading pada PT Pertamina, Henny Trisnadewi, mengungkap alasan kerja sama dengan perusahaan Amerika Serikat (AS), Corpus Christi Liquefaction LLC (CCL). Henny mengatakan CCL memiliki harga yang paling menguntungkan dibanding supplier lain.

Hal itu disampaikan Henny saat menjadi saksi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan LNG di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (16/3/2026). Henny dihadirkan sebagai saksi meringankan oleh terdakwa eks Direktur Gas PT Pertamina, Hari Karyuliarto.

Mulanya, pengacara Hari, Humisar Sahala Panjaitan mendalami alasan pemilihan CCL sebagai supplier dalam pengadaan LNG. Henny mengatakan pihaknya sudah melakukan penjajakan harga sejak 2011.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenapa ketika itu memilih CCL?" tanya Humisar.

"CCL kita melihat ini emang merupakan hal baru yang berasal dari Amerika, maksudnya LNG sebelum itu Amerika terkenal menjadi importir LNG, namun periode ini berubah ketika memang sudah diketemukannya shell gas, teknologi baru untuk mend-develop gas sehingga harga gas di Amerika menjadi lebih murah. Makanya kita membandingkan harga antara oil index dengan gas index, untuk LNG dari Amerika ini sejak shell gas itu booming, ini menjadi salah satu alternatif dari seluruh pemain dunia di mana Cheniere merupakan pionir penjual LNG pertama dari Amerika," jawab Henny.

Henny menyebut pembandingan harga antara CCL dengan seluruh supplier lain baik di luar negeri ataupun domestik telah dilakukan. Hasilnya, Henny menilai CCL memiliki harga yang paling kompetitif.

"Jadi kita melihat di tahun 2011 pengembangan projek ini sudah berjalan, dan sudah ada beberapa ikatan yang kami ketahui sudah dimiliki Cheniere dengan pemain internasional termasuk international payer, shell, dan beberapa pemain LNG di mana ini menunggu untuk dituangkan di dalam LNG SPI yang blinding," kata Henny.

"Jadi pada waktu itu kami tetap membandingkan dengan yang lain dari 2011 penjajakannya dan kita juga melakukan penjajakan dari pemain lain dari Mitsubishi pada waktu itu, mereka juga menawarkan LNG dari Amerika, dan juga dari domestik. Jadi sebenernya Corpus Christi ini bukan satu-satunya tapi ketika kita bandingkan harga dan fleksibilitas, Corpus Christi ini yang paling kompetitif pada saat itu di tahun 2013," imbuh Henny.

Henny mengatakan angka henry hub saat itu menunjukkan angka yang cukup tinggi tapi tetap kompetitif. Sebagai informasi, henry hub merupakan titik pertemuan pipa gas alam utama di Erath, Louisiana, AS, yang berfungsi sebagai tolok ukur (benchmark) harga gas alam cair (LNG) global.

"Pengertian kompetitif itu apa bu? Harga lebih murah atau apa?" tanya Humisar.

"Harga ada periode tertentu yang bisa lebih mahal tapi bisa lebih murah, karena antara minyak dan gas itu tidak ada korelasi langsung. Akan tetapi kita melihat pada waktu itu dari forecast yang ada, henry hub ini cukup kompetitif pada waktu itu dengan forecast yang sebenernya menunjukkan angka henry hub itu cukup tinggi namun tetap kompetitif karena LNG yang berasal dari Indonesia itu tidak bisa memenuhi kebutuhan jangka panjang Pertamina pada saat itu," jawab Henny.

Henny mengatakan alasan lain adalah pertimbangan fleksibilitas yang diterima. Dia mengatakan pertimbangan lain ialah hak suspension, yaitu tak perlu membayar keseluruhan nilai kontrak seperti dalam konsep take or pay.

"Dan ada hal lainnya berupa fleksibilitas di mana LNG dari Pertamina ini bisa memberikan keleluasaan bagi Pertamina sebagai pembeli berupa free destination. Jadi apabila LNG yang kita beli ini memang kita niatkan awal masuk ke Indonesia, namun Indonesia belum bisa mengkonsumsi LNG tersebut. Ini boleh kita alihkan ke manapun sebagaimana yang dimiliki oleh kontrak, artinya ada negara, kecuali ke Schengen Country. Jadi itu bebas bisa kita lakukan," ujar Henny.

"Dan ada juga salah satunya suspension, hak suspension di mana apabila buyer Pertamina laba ini tidak dapat mengambil kargo tersebut, kita hanya cukup membayar konstanta yang ada. Artinya tidak perlu membayar keseluruhan nilai kontrak dibandingkan dengan kontrak LNG lainnya yang mungkin lebih dikenal dengan take or pay. Kalau take or pay itu harus membayar nilai keseluruhan kargo, sedangkan suspension itu kita cukup membayar konstanta saja," tambah Henny.

Henny menilai CCL yang paling menguntungkan dibanding supplier lain dalam pengadaan LNG. Dia mengatakan fokus yang juga dilakukan saat itu ialah membandingkan kondisi harga pasar bukan kemampuan harga domestik.

"Dengan kata lain di antara seluruh supplier CCL yang lebih menguntungkan kalau dipilih begitu ya Bu?" tanya Humisar.

"Betul," jawab Henny.

"Kemudian ketika memilih CCL, perlu nggak direktorat gas mempertimbangkan harga pembeli domestik?" tanya Humisar.

"Untuk harga pembeli domestik pada saat itu, tugas kami, kita securing. Jadi ada beberapa bagian sebenarnya yang memang bertanggung jawab untuk seluruh value chain. Untuk LNG trading kami fokus untuk melakukan procurement, yang kami bandingkan adalah kondisi harga pasar. Namun, ada hal yang memang kita ketahui bahwa itu adanya kebutuhan dari domestik, dari domestik dan dari Pertamina sendiri. Jadi kami tidak fokus terhadap kemampuan harga domestik," jawab Henny.

Pengacara Hari juga mendalami Henny tentang perbandingan harga CCL dengan harga LNG landed domestik. Henny mengatakan pihaknya membandingkan apple to apple harga sampai di terminal penerima di Indonesia.

"Bagaimana cara perbandingan harga CCL dengan harga landed domestik?" tanya Humisar.

"Kalau pembelian LNG kita dari Amerika itu berupa free on board bahwa kita harus mengambil LNG-nya dari sana, ketika kita akan membawa ke Indonesia, kita membandingkan dengan harga landed Indonesia menghitung transportasi. Jadi dalam rencana yang kita lakukan, kita akan melakukan penyewaan kapal, dan ini memang sudah dikaji oleh teman-teman di transportation, pada waktu itu angka yang didapat sekitar 2,8 dolar per MMBTU atau sampai 3 dolar," jawab Henny.

"Nah ini yang kita bandingkan dengan landed price di Indonesia. Jadi harga LNG yang berasal dari Bontang atau dari Tangguh itu ketiga dia landed, contohnya bisa di Arun atau di Nusantara Regas itu di Jawa, itu harga yang sama. Jadi kita membandingkannya apple to apple harga sampai di terminal penerima di Indonesia," lanjut Henny.

Dalam sidang ini, Hari juga menghadirkan saksi meringankan lainnya yaitu eks Senior Vice President Strategic and Investasi pada PT Pertamina, Daniel Purba. Daniel menilai pengadaan LNG bukan kategori investasi melainkan kegiatan operasional biasa.

"Pengadaan LNG dapat dikategorikan investasi kah?" tanya Humisar.

"Tidak Pak. Jadi ini saya dalam kapasitas sebagai corporate strategic ke bisnis itu memang untuk kegiatan-kegiatan usaha dalam rangka pengadaan maupun penjualan, itu tidak dikategorikan sebagai investasi," jawab Henny.

"Jadi termasuk apa itu kalau pengadaan LNG itu?" tanya Humisar.

"Itu operasional Pak," jawab Henny.

"Dagang memang sesuai?" tanya Humisar.

"Memang tugasnya Pertamina Pak, pembelian dan penjualan itu tugasnya Pertamina Pak," jawab Henny.

Dakwaan

Sebelumnya, Jaksa penuntut umum pada KPK mendakwa dua terdakwa baru kasus korupsi pengadaan liquefied natural gas (LNG) atau gas alam cair merugikan negara USD 113 juta. Kedua terdakwa itu ialah mantan Direktur Gas PT Pertamina, Hari Karyuliarto, dan mantan VP Strategic Planning Business Development Direktorat Gas Pertamina, Yenni Andayani.

Sidang dakwaan digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa (23/12/2025). Keduanya didakwa melakukan perbuatan tersebut bersama mantan Dirut Pertamina Galaila Karen Kardinah atau Karen Agustiawan, yang sudah lebih dulu divonis bersalah dalam kasus ini.

"Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, yaitu memperkaya Galaila Karen Kardinah alias Karen Agustiawan sebesar Rp 1.091.280.281 (Rp 1 miliar) dan USD 104.016 serta memperkaya korporasi Corpus Christi Liquefaction LLC sebesar USD 113.839.186 (USD 113 juta)," ujar jaksa.

Jaksa mengatakan angka kerugian itu didasari pada laporan hasil pemeriksaan investigatif BPK RI. Jaksa mengatakan pembelian gas itu dilakukan dengan alasan stok gas dalam negeri terbatas sehingga Pertamina perlu membeli gas dari AS.

Jaksa mengatakan izin prinsip terkait pengadaan LNG itu dikeluarkan Karen tanpa pedoman pelaksanaan pengadaan LNG. Pengadaan LNG itu, kata jaksa, dilakukan berdasarkan best practice yang selalu dilakukan Pertamina sebagai seller LNG bagian negara.

Setelah melalui berbagai proses negosiasi dan proses pembahasan internal, pembelian gas pun dilakukan oleh Pertamina kepada Corpus Christi Liquefaction LLC. Padahal, kata jaksa, Pertamina belum memiliki pembeli tetap LNG di pasar domestik yang akan menyerap atau membeli LNG dari perusahaan AS tersebut.

Jaksa mengatakan pembelian LNG itu tak disertai dengan analisis atau perhitungan keekonomian secara final. Kondisi itu menyebabkan terjadinya kelebihan atau over supply LNG.

"Padahal seharusnya sesuai dengan kajian risiko interim terkait volume LNG impor yang akan dibeli oleh Direktorat Gas PT Pertamina, harus terdapat gas sales agreement (GSA) sebelum LNG SPA (sales and purchase agreement) ditandatangani sehingga LNG tersebut dapat diserap 95 persen menurut pendekatan statistic probability atau sebesar 90 persen menurut pendekatan konservatif atau 80 persen volume LNG SPA menurut pendekatan agresif sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi PT Pertamina," ucapnya.

Jaksa mengatakan Pertamina kemudian menjual LNG impor yang surplus itu kepada pembeli di luar negeri pada 2019-2023. Jaksa mengatakan total biaya pembelian 18 kargo LNG Corpus Christi Liquefaction yang dikeluarkan Pertamina berjumlah USD 341.410.404 dan Pertamina menjualnya secara rugi dengan nilai penjualan USD 248.784.764.

Jaksa mengatakan Pertamina mengalami kerugian dari praktik jual beli tersebut senilai USD 92.625.640. Jaksa juga mengatakan ada uncommitment cargo sehingga menyebabkan Pertamina harus membayar suspension fee USD 10.045.980.

Jaksa pun mengatakan perbuatan para terdakwa telah menyebabkan kerugian negara USD 113.839.186. Jumlah itu setara Rp 1,9 triliun jika didasarkan pada kurs saat ini.

"Merugikan keuangan negara pada PT Pertamina (Persero) sebesar USD 113.839.186," ujar jaksa.

(mib/isa)


Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |