Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Gerindra, Ali Lubis, mengecam keras adanya tantangan membaca atau menghafal Al-Qur'an yang dikaitkan dengan pemberian hadiah berupa minuman keras atau minuman beralkohol di booth Newport dalam acara The Sounds Project. Ali menekankan tindakan tersebut sangat kurang ajar.
"Ini merupakan tindakan yang kurang ajar dan kelewat batas, ini bukan hanya sekadar persoalan gimik, candaan, atau sekadar kesalahan teknis dalam sebuah acara," kata Ali dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia meminta aparat penegak hukum bergerak cepat dan segera mengusut tuntas kasus ini secara serius dan menyeluruh sebelum persoalan ini melebar ke mana-mana. Ia khawatir persoalan ini menimbulkan keresahan serta polemik yang lebih besar di tengah masyarakat khususnya umat Islam.
"Tindakan ini sangat tidak pantas dan kurang ajar, di mana menjadikan hafalan ayat Al-Qur'an sebagai aksi promosi miras atau minol, sehingga kejadian tersebut termasuk perbuatan penistaan agama," tegas dia.
Selanjutnya, Ali juga meminta aparat penegak hukum segera memanggil dan memeriksa seluruh pihak yang terlibat, termasuk panitia, MC, EO hingga pihak penyelenggara acara, termasuk pihak booth Newport, maupun pihak-pihak lain yang memiliki keterkaitan dengan kejadian tersebut. Jika dari hasil penyelidikan dan penyidikan ditemukan adanya unsur tindak pidana, siapa pun yang bertanggung jawab harus diproses secara hukum tanpa pandang bulu.
Ia juga meminta instansi yang berwenang bertindak tegas mencabut perizinan, mulai izin produksi dan izin edar dari produk Newport. Termasuk, lanjut dia, izin dari pabrik yang melakukan kegiatan produksi minuman alkohol merek Newport tersebut sebagaimana ketentuan hukum yang berlaku.
"Indonesia adalah negara hukum. Jangan sampai ada pihak yang merasa kebal hukum hanya karena menganggap tindakan tersebut sebagai bagian dari promosi atau hiburan semata," imbuh dia.
"Aparat penegak hukum harus bertindak cepat, tegas dan profesional serta transparan serta melakukan kordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Jangan menunggu masyarakat marah, baru kemudian mengambil tindakan," lanjutnya.
Lebih lanjut, ia juga mengimbau kepada masyarakat khususnya umat islam untuk tidak terprovokasi untuk melakukan tindakan main hakim sendiri. "Mari kita serahkan proses hukum ini kepada aparat penegak hukum," sambung dia.
Dilihat detikcom, dalam video yang beredar, tampak momen booth produk miras di salah satu festival musik menggelar tantangan (challenge) hafalan salah satu surah Al-Qur'an, Ad-Dhuha, bagi pengunjung. Dalam video itu, disebutkan pengunjung yang bisa hafal mendapat imbalan diduga miras.
Masih dalam video tersebut, terlihat pengunjung yang menghafal satu per satu ayat Ad-Dhuha. Ada sorakan dan tepukan tangan saat pengunjung itu selesai menghafal.
Respons Penyelenggara
Pihak penyelenggara, The Sounds Project, buka suara terkait hal ini. Mereka turut mengecam kejadian tersebut.
"Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun," kata The Sounds Project melalui akun Instagram resminya.
"Kami telah menegur pihak sponsor terkait dan meminta mereka untuk menyelesaikan kasus ini hingga tuntas," lanjutnya.
Tanggapan Newport
Sementara itu, Direktur Newport, Handoko Sasongko, juga menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut. Ia menegaskan aktivitas tersebut bukan merupakan program ataupun konsep promosi.
"Sehubungan dengan beredarnya video di booth Newport pada gelaran festival musik The Sounds Project, Minggu (9/8), Newport menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat muslim, tokoh agama, dan seluruh masyarakat Indonesia atas kejadian yang menimbulkan ketidaknyamanan, rasa terluka, dan kegaduhan yang terjadi," ungkap Handoko dalam keterangannya, Selasa (11/8).
"Newport perlu meluruskan bahwa aktivitas tersebut bukan merupakan program, konsep promosi, challenge, maupun arahan yang dibuat atau direncanakan oleh Newport. Aktivitas tersebut muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi," imbuhnya.
Lebih lanjut, Handoko juga mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan di lapangan. Perusahaan menyesalkan situasi tersebut tidak ditangani sebagaimana mestinya ketika kejadian berlangsung.
"Newport sangat menyesalkan bahwa situasi tersebut tidak ditangani sebagaimana mestinya pada saat kejadian. Kami menyesal adanya kelemahan dalam pengawasan terhadap pengunjung yang bisa mengambil alih mik dari MC di lapangan, sehingga tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, keyakinan, budaya serta adat istiadat yang dijunjung oleh masyarakat dapat terjadi," ucapnya.
(maa/gbr)
















































