LCC 4 Pilar MPR Jadi Wadah Pendidikan Karakter & Penguatan Nasionalisme

8 hours ago 2

Jakarta -

Anggota MPR RI dari kelompok Dewan Perwakilan Daerah Daerah Pemilihan Provinsi Kalimantan Timur, Aji Mirni Mawarni menyampaikan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI bukan sekadar ajang perlombaan. Namun juga sebagai pendidikan karakter untuk memperkuat nasionalisme.

Hal itu disampaikan saat meresmikan pembukaan LCC Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Timur, di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, hari ini,

"Adik-adik sekalian, LCC ini bukan sekadar ajang perlombaan untuk menguji wawasan kebangsaan secara teori. Ini adalah wadah pendidikan karakter bagi generasi muda. Kita berharap, setelah kompetisi ini, nilai-nilai Pancasila tidak hanya dihafal, tetapi benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari demi menjaga persatuan bangsa," ujar Mirni dalam keterangannya, Sabtu (13/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada kesempatan tersebut, ia juga menyambut antusias para peserta dari sembilan sekolah yang masuk dalam babak penyisihan tingkat provinsi. Mereka yang lolos adalah SMA Nasional KPS; SMAN 1 Tenggarong; SMAN 10 Samarinda; MAN Kutai Barat; SMAN 2 Berau; SMAN 1 Sanggatta Utara; SMKN 1 Bontang; SMAN 1 Bontang; dan MAN Insan Cendekia Paser.

Mirni mengungkapkan sejatinya kemenangan lahir dari proses yang jujur dan adil. Olek karena itu, sportivitas harus dijunjung tinggi dan menerima hasil lomba dengan lapang dada.

"Hormati keputusan dewan juri, hargai lawan bertanding, dan utamakan kejujuran di atas segalanya. Selamat mengikuti lomba dan berikan kemampuan terbaik kalian! Sebagai penyemangat, bagi tim yang nanti berhasil menang dan mewakili Kaltim ke Jakarta, insya Allah akan ada tambahan uang saku pribadi dari saya," paparnya.

Sementara itu Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 1 Provinsi Kalimantan Timur, Winarno berharap agar LCC Empat Pilar MPR RI tidak pernah berhenti untuk dilaksanakan.

Menurutnya, kompetisi tersebut mendorong terwujudnya generasi yang melek Empat Pilar MPR RI.

"Mudah-mudahan ajang ini terus berlanjut karena sangat efektif untuk memberikan wawasan yang lebih mendalam serta implementasi nilai-nilai kebangsaan bagi siswa-siswi kita, khususnya di jenjang SMA, SMK, dan sederajat. Kita menyadari bahwa nilai-nilai wawasan kebangsaan saat ini mulai agak luntur. Mudah-mudahan dengan semangat Empat Pilar ini, nilai-nilai tersebut bangkit kembali," tuturnya.

Winarno juga mengingat di masa sekolahnya, sebelum adanya amandemen, Pancasila dan UUD 1945 sangat ketat dipelajari. Dengan begitu, perkembangan hasil amandemen terbaru harus disosialisasikan secara masif salah satunya melalui LCC ini.

"Sekarang setelah mengalami beberapa kali amandemen, strukturnya sudah berkembang pesat dan anak-anak zaman sekarang mungkin banyak yang belum terlalu hafal. Melalui LCC ini, materi-materi tersebut digali kembali. Kami juga berharap ke depan ada program pengembangan berupa Bimtek (Bimbingan Teknis) khusus untuk Guru PKN (Pendidikan Kewarganegaraan) yang dipromotori langsung oleh MPR RI," jelasnya.

Sebelumnya, seluruh peserta juga telah mendapatkan pemaparan materi dalam technical meeting oleh Kepala Biro Persidangan dan Pemasyarakatan Konstitusi Setjen MPR RI,Wahid Nugroho.

"Adik-adik yang duduk di sini, perwakilan dari sembilan sekolah, adalah tim terbaik yang telah lolos seleksi di tingkat kabupaten dan kota. Passing grade kalian luar biasa, di atas 90. Artinya, dari 100 soal, salahnya kurang dari 10. Mari berikan tepuk tangan untuk kita semua!" paparnya.

Ia menekankan ada beberapa pembaharuan dalam perlombaan, mulai dari menerapkan sistem VAR (Video Assistant Referee). Untuk itu, jika ada perselisihan (dispute) atau ketidakpuasan terkait hasil, inspektur juri akan menilai kembali melalui rekaman video yang bisa dilihat bersama.

"Langkah ini kita ambil agar kompetisi berjalan lebih terbuka, jujur, dan akuntabel," tegasnya.

Para peserta juga harus melewati tiga sesi penyisihan. Sesi pertama adalah "Wawasan Empat Pilar", di mana setiap tim harus menjawab pertanyaan secara cepat dan tepat secara bergiliran.

Sesi kedua beralih ke format 'Tematik', yang menuntut kerja sama tim dalam menyampaikan argumen pro dan kontra terhadap studi kasus yang ditentukan lewat undian spin acak.

Terakhir, sesi 'Rebutan' menjadi ujian pamungkas yang mengadu ketangkasan individu untuk menjawab pertanyaan secara mandiri tanpa bantuan rekan setim.

Seluruh sesi ini melibatkan dewan juri yang berasal dari unsur akademisi dari Universitas Mulawarman Kalimantan Timur, yakni Alim Salamah., S.Pd., M.Pd; Nur Fitri Handayani, S.Pd, M.Pd; dan Triandi Bimankalid, S.H., M.H.

Sebagai informasi, turut hadir pada peresmian tersebut Kepala Biro Persidangan dan Pemasyarakatan Konstitusi Setjen MPR RI, Wahid Nugroho dan jajarannya. Turut serta Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 1 Provinsi Kalimantan Timur, Dr. Winarno, S.Pd., M.Pd; Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur, Muhammad Jasniansyah dan seluruh guru pendamping peserta.


(anl/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |