Bagaimana Sejarah dan Asal-usul Penamaan Bulan Ramadan?

4 hours ago 3

loading...

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan: Dinamakan bulan Ramadan karena ia mengugurkan (membakar) dosa-dosa dengan amal saleh. Foto iluustrasi/ist

Mengapa bulan suci untuk berpuasa dinamai dengan Ramadan ? Bagaimana sejarah dan asal-usul penamaan tersebut? Simak penjelasannya berikut ini:

Bulan Ramadan adalah bulan ke-9 dalam Kalender Hijriyah . Menurut Dai yang juga pengajar Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Ahmad Zarkasih, Ramadan berasal dari kata Romadh (رمض) yang artinya panas menyengat atau membakar.

Dinamakan seperti itu karena memang matahari pada bulan tersebut lebih menyengat dibanding bulan-bulan lain. Panas yang dihasilkannya lebih tinggi dibanding yang lain.

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan: "Dinamakan bulan Ramadan karena ia mengugurkan (membakar) dosa-dosa dengan amal saleh."


Sejarah dan asal-usul Nama Ramadan

Asal usul penamaan Ramadan bermula dari penggunaan kalender Hijriyah pada Tahun 412 Masehi. Ketika itu terjadi konvensi petinggi lintas suku dan kabilah Arab di Makkah pada masa Kilab bin Murrah (kakek Nabi Muhammad SAW ke-6). Mereka berkumpul untuk menentukan nama-nama bulan agar terjadi kesamaan, sehingga memudahkan mereka dalam urusan perdagangan.

Baca juga: 9 Peristiwa Bersejarah di Bulan Ramadan, Kaum Muslim Wajib Tahu!

Dari perkumpulan itu, muncullah 12 nama bulan yaitu:

(1) Muharram
(2) Shafar
(3) Rabi'al-Awwal
(4) Rabi'al-Tsani
(5) Jumadal Ula
(6) Jumadal Tsaniyah
(7) Rajab
(8) Sya'ban
(9) Ramadan
(10) Syawwal
(11) Dzulqa'dah
(12) Dzulhijjah.

Kala itu penomoran bulan belum ada karena orang-orang Arab terdahulu tidak tahu bulan apa yang pertama. Munculnya penomoran bulan Hijriyah pada masa Khalifah Umar bin Khaththab yang mengeluarkan perintah untuk membuat kalender Islam. Akhirnya bulan Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama kalender Islam yang kita kenal dengan kalender Hijriyah. Dan bulan kesembilan dinamakan Ramadan.

Dalam buku "Essentials of Ramadan, The Fasting Month" karya Tajuddin Shuaib disebutkan, setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan (kalnder Hijriyah), rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari (kalender Masehi).

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |