Asal-usul Nama Iran: Mengapa Identitas Persia Ditinggalkan?

12 hours ago 4

loading...

Sejak 1935, pada masa kekuasaan Raja Reza Khan, pendiri Dinasti Pahlevi dan ayah Syah Muhammad Reza Pahlevi yang ditumbangkan oleh Ayatullah Khomeini pada tahun 1979, sebutan Persia diganti dengan Iran. Foto ilustrasi/youtube

Asal-usul nama Iran ini menarik untuk diketahui. Negara Iran menjadi negara yang paling populer saat ini, karena peperangannya dengan Amerika Serikat-Israel yang belum mereda. Simak ulasan dan penjelasannya berikut ini.

Dahulu Iran dikenal dengan sebutan Kerajaan Persia . Sejak 1935, pada masa kekuasaan Raja Reza Khan, pendiri Dinasti Pahlevi dan ayah Syah Muhammad Reza Pahlevi yang ditumbangkan oleh Ayatullah Khomeini pada tahun 1979, sebutan Persia diganti dengan Iran. Suatu nama yang pernah dipakai oleh nenek moyang bangsa Iran di daratan Tinggi Iran yang dikuasai pada tahun 1700 SM.

Menurut buku "Ensiklopedi Islam" (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 1994), disebutkan pula bahwa pada masa kekuasaan Darius, kata Iran pernah digunakan bagi negeri kekuasaannya.

Penduduk asli Iran , berasal dari padang rumput Kaukasian dan mulai berimigrasi ke Iran sekitar 1500 SM. Sepanjang sejarah, Iran menderita beberapa invasi kelompok-kelompok etnik lain. Pendudukan dalam skala besar dilakukan oleh etnik Arya seperti Medes dan Parsa. Etnik minoritas terbesar saat ini dibentuk oleh penduduk yang berbahasa Turki, tetapi sudah berbeda dengan bentuk aslinya.

Baca juga: Kenali 7 Ciri Wanita yang Tertipu Fitnah Dajjal di Akhir Zaman

Kebanyakan bermukim di sebelah Barat Laut Iran, khususnya di dua provinsi Azerbaijan dan provinsi Fars dan Teluk Persia. Kelompok-kelompok suku besar lainnya adalah suku Kurdi terutama yang terdapat di sebelah Barat Azerbaijan, Kurdistan dan wilayah Kermanshah, yakni suku Lur di Luristan dan suku Bakhtiari yang tinggal di daerah luas Zagros.

Ajid Thohir dalam "Studi Kawasan Dunia Islam: Perspektif Etno-Linguistik dan Geo-Politik" Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2009) menyebut kelompok-kelompok minoritas terkecil lain, Yahudi berjumlah 20.000-40.000 jiwa, Armenia berjumlah 50.000 jiwa dan Assyria berjumlah 25.000 jiwa.

Pada tahun 637 M melalui Perang Qadisiyyah, Imperium Persia jatuh ke tangan kaum Muslimin yang waktu itu dipimpin oleh Khalifah Umar bin Khattab (634-644).

Kemudian pada tahun 641, melalui peperangan Nahavand, seluruh Imperium Persia yang waktu itu dipimpin oleh Raja Yazdajird jatuh ke tangan kaum Muslimin.

Beralih ke Islam

Setelah peperangan Nahavad, bangsa Persia (Iran) yang semula menganut agama Zoroaster beralih ke agama Islam. Akhirnya, kebudayaan Islam pun berkembang di Persia.

Pada tahun 820 M seluruh wilayah Persia praktis berada di bawah kekuasaan penuh kekhalifahan di Baghdad. Tetapi sejak tahun 820 M bermunculan dinasti-dinasti kecil maupun besar di berbagai wilayah Persia yang silih berganti menguasai wilayah-wilayah Persia.

Dinasti-dinasti itu antara lain adalah Dinasti Samanid (892-999 M), Gaznawi (999- 1037 M) dan Saljuk (1037-1157 M).

Hal ini bermula dari rasa terima kasih Khalifah al-Makmun (813-833) kepada panglima perangnya, Tahir bin Husain yang telah berjasa memulihkan kekuasaannya, yakni memberikan wewenang kepada Tahir ibn Husain untuk mendirikan Dinasti Tahiriy (820-872 M) di Khurasan (Iran).

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |